Hari-hari terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih Prancis membawa dirinya kembali pada kenyataan pahit dari sebuah kekalahan. Dia kembali menjadi sasaran utama kesalahan. Ini adalah tugasnya, setidaknya hingga Sabtu malam ini pada laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 melawan Inggris di Miami, Amerika Serikat. Namun, publik harus melihat melampaui hasil empat hari terakhir untuk menilai seluruh karya besarnya. Ini adalah masa jabatan terpanjang dalam sejarah pelatih Prancis, yang kini mencapai pertandingan ke-185 dalam 14 musim.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Berdasarkan catatan sejarah, tidak ada orang yang mampu bertahan selama itu. Tekanan media dan publik di kursi pelatih Prancis terasa dua kali lebih berat, mirip dengan posisi Perdana Menteri. Ini adalah peran di mana kemenangan dibagi bersama, namun kekalahan harus dihadapi sendirian.
Menurut rekor dunia, Deschamps kini sejajar dengan Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer sebagai tokoh yang sukses menjuarai Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih. Pencapaiannya lebih dari sekadar memenangkan satu turnamen besar dari tujuh kesempatan. Dia berhasil membawa Prancis ke tiga laga final dan mencapai babak semifinal sebanyak lima kali dalam enam kompetisi besar terakhir.
Kekalahan telak dari Spanyol dengan skor 0-2 pada babak semifinal memicu kekecewaan yang sangat besar. Publik menilai posisinya selalu serbasalah. Deschamps kerap dikritik, baik saat menerapkan taktik tiga gelandang bertahan maupun saat mengubahnya menjadi dua gelandang.
Dia dinilai keliru saat bermain defensif dan pragmatis, dan tetap dianggap salah ketika mencoba bermain ofensif. Sebagian besar masa jabatannya dipenuhi tuduhan sebagai pelatih yang membosankan karena strategi hati-hati yang diterapkannya. Namun, dia selalu berhasil meremajakan skuadnya sebesar 50 persen dari satu Piala Dunia ke Piala Dunia berikutnya. Dia terbukti mampu memunculkan bakat muda dan beradaptasi dengan situasi, termasuk menyelesaikan perselisihan dengan pemain yang sempat dia panggil kembali seperti Karim Benzema.
Keteguhan Deschamps pada akhirnya memicu kejenuhan publik. Publik jenuh melihat keteraturan taktik Les Bleus serta kontrol ketatnya dalam setiap pernyataan pers. Perpanjangan kontrak yang sering disepakati secara tertutup dengan mantan Presiden FFF Noël Le Graët juga memicu kecurigaan adanya monopoli di tim nasional. Muncul ambiguitas antara ambisi untuk terus menang atau sekadar keinginan untuk bertahan di kursi pelatih.
Era 14 tahun kepemimpinannya juga bertepatan dengan hilangnya ruang diskusi yang objektif di dunia sepak bola. Zaman telah berubah jika dibandingkan era Aimé Jacquet pada tahun 1998 yang tidak tersentuh kritik. Pada tahun 2018, seorang pelatih yang baru saja menjuarai Piala Dunia pun tetap bisa digugat secara terbuka. Deschamps menghadapi dinamika tersebut dengan meredam perdebatan media dan membangun kedekatan dengan lingkungan tim atas dasar pengabdian kepada publik.
Tentu akan lebih mudah bagi Deschamps jika dia mundur di tengah momentum kejayaan, seperti yang dilakukan Michel Hidalgo setelah Euro 1984 atau Aimé Jacquet usai Piala Dunia 1998. Sebaliknya, dia memilih bertahan dan sempat melewati kegagalan terburuknya saat disingkirkan Swiss melalui adu penalti pada babak 16 besar Euro 2021. Turnamen yang dibatasi protokol Covid-19 itu menjadi satu-satunya momen di mana dia gagal menunjukkan kapasitasnya dalam membangun kebersamaan tim.
Kritik mungkin menyebut dirinya bukan pelatih taktis yang hebat, melainkan hanya seorang manajer tim yang andal. Namun, sejarah tidak bisa dibantah. Ketika membandingkan posisinya dengan Michel Hidalgo atau Aimé Jacquet, nama Deschamps tetap berada di tempat tertinggi. Lewat pintu kejayaan itulah dia akan melangkah keluar dari kompetisi di Miami, terlepas dari hasil akhir yang diraih Prancis saat menghadapi Inggris.