Tim nasional Prancis tampil sangat disiplin dan tidak terburu-buru saat menguasai bola ketika menghadapi pertahanan rapat Maroko. Mantan pelatih terkemuka, Claude Puel, sempat merasa khawatir pada babak pertama karena banyak peluang emas yang terbuang. Namun, armada Les Bleus kembali ke lapangan pada babak kedua dengan tingkat konsentrasi tinggi, baik saat menguasai bola maupun ketika kehilangan bola.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Kerja keras Prancis dalam melakukan tekanan langsung setelah kehilangan bola berhasil mematikan kreativitas permainan Maroko. Menurut Claude Puel, dominasi ini membuahkan hasil logis lewat dua gol yang masing-masing dicetak oleh Kylian Mbappe pada menit ke-60 dan Ousmane Dembele pada menit ke-66.
Maroko dinilai terlalu fokus mempertahankan area mereka sehingga melupakan skema menyerang. Padahal, pada pertandingan-pertandingan sebelumnya, mereka selalu tampil vertikal dan langsung menusuk ke depan begitu berhasil merebut bola. Faktor mental menghadapi ketangguhan Prancis disinyalir menjadi penyebab utama runtuhnya strategi Maroko.
Kemenangan dominan ini juga tidak lepas dari performa apik lini belakang Prancis yang dikawal oleh Dayot Upamecano dan William Saliba. Kedua bek tengah tersebut tampil sangat waspada dalam membaca permainan serta mematahkan setiap upaya serangan balik maupun umpan terobosan dari para pemain Maroko.
Sektor tengah Prancis juga menuai pujian khusus melalui duet Manu Kone dan Adrien Rabiot. "Adrien Rabiot kali ini memainkan peran yang biasanya diemban oleh Aurelien Tchouameni dengan sangat sempurna, dia menjaga keseimbangan tim di depan lini pertahanan dengan penuh otoritas," ujar Claude Puel saat memberikan analisisnya.
Kehadiran Adrien Rabiot memberikan kebebasan bagi Manu Kone untuk membantu serangan berkat kemampuan teknik dan akurasi tembakannya yang mumpuni. Gelandang AS Roma tersebut dinilai tampil sangat impresif. Kedisiplinan para pemain Prancis untuk menghindari kartu kuning juga berjalan sukses berkat instruksi matang dari pelatih Didier Deschamps sebelum laga dimulai.
Meskipun Kylian Mbappe sempat gagal mengeksekusi penalti pada menit ke-28 akibat jeda waktu yang terlalu lama, mentalitasnya tidak goyah. Bintang Real Madrid tersebut bangkit untuk memecah kebuntuan dan memberikan umpan matang bagi gol kedua. Kekuatan karakter luar biasa dari Kylian Mbappe mencerminkan ketangguhan mental yang kini dimiliki oleh seluruh skuad Prancis.
Faktor kepemimpinan Didier Deschamps dinilai menjadi kunci utama kematangan Prancis di turnamen ini. Berdasarkan pengamatan Claude Puel, sang selektor berhasil menyalurkan ketenangan kepada para pemain di tengah tekanan besar. Didier Deschamps menerapkan proyek permainan yang akomodatif bagi empat pemain bertipe menyerang tanpa mengorbankan stabilitas pertahanan.
Keunggulan jadwal pemulihan fisik kini berada di tangan Prancis menjelang babak semifinal melawan Spanyol atau Belgia. Keuntungan waktu istirahat ekstra ini diprediksi akan menjadi pembeda besar di fase akhir Piala Dunia 2026, terlebih karena kondisi fisik para pemain Prancis masih terjaga berkat distribusi pergerakan yang efisien di lapangan.