PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi. Langkah ini diambil untuk menghadapi potensi dampak buruk dari fenomena alam El Nino. Fenomena tersebut memicu pemanasan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik yang berdampak langsung pada cuaca di Indonesia.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat akan melanda Sulawesi Selatan. Puncak fenomena ini diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026. Dampak utamanya adalah penurunan curah hujan yang drastis, risiko kekeringan, serta krisis air bersih yang bertepatan dengan musim kemarau.
Bagi pihak PLN, fenomena El Nino membawa tantangan besar karena menurunkan produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Penurunan ini terjadi akibat menyusutnya debit air waduk dan sungai secara signifikan. Kondisi tersebut memicu potensi defisit pasokan listrik, sehingga PLN harus mengalihkan beban ke pembangkit termal yang membutuhkan biaya operasional jauh lebih besar.
Menurut Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar, Ahmad Amirul Syarif, salah satu strategi utama yang disiapkan adalah pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Metode yang dikenal sebagai penyemaian awan ini bertujuan untuk memanipulasi kondisi cuaca agar curah hujan di area PLTA tetap terjaga.
Langkah strategis ini akan dieksekusi melalui kolaborasi erat dengan BMKG demi mempertahankan volume air di bendungan. "PLN sudah melakukan beberapa langkah mitigasi untuk memperkuat sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan, di antaranya rencana pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca jika diperlukan pada PLTA dengan bersinergi bersama BMKG," kata Ahmad Amirul Syarif pada Senin (13/7/2026).
Selain menyiapkan operasi TMC, PLN juga mempercepat jadwal pemeliharaan seluruh unit pembangkit agar dapat beroperasi maksimal. Langkah preventif ini krusial untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan regional di tengah ancaman penurunan pasokan energi berbasis air.
Sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan kini diklaim berada dalam posisi yang lebih aman berkat penguatan infrastruktur. "Pasca tahun 2023 sudah ada penambahan kapasitas pembangkit yang tersebar di Sistem Kelistrikan Sulbagsel dengan total daya mencapai 300 megawatt," ujar Ahmad Amirul menambahkan.