Yummy Berita Yummy Berita
/home / politik / Mantan Pengacara Gedung Putih, Trump...
POLITIK

Mantan Pengacara Gedung Putih, Trump Atur Siasat Jelang Pemilu Paruh Waktu

Mantan pengacara Gedung Putih Ty Cobb memberikan kritik terhadap kebijakan pemilu Donald Trump

Mantan pengacara Gedung Putih Ty Cobb memberikan kritik terhadap kebijakan pemilu Donald Trump

Mantan pengacara Gedung Putih Ty Cobb memberikan peringatan keras pada hari Jumat terkait langkah politik terbaru Donald Trump. Menurut Cobb, keputusan Trump untuk memecat anggota Partai Demokrat yang tersisa di komisi administrasi pemilu independen pekan ini merupakan bagian dari "rencana sengaja". Langkah tersebut dinilai sebagai upaya nyata untuk memengaruhi jalannya pemilu paruh waktu yang akan datang.

"Anda tidak bisa melihat pemecatan Komisi Bantuan Pemilu (EAC) sebagai hal lain selain upaya satu pihak untuk merebut sebagian peran wasit dalam pemilu," ujar Cobb saat tampil dalam program MS NOW. Pernyataan ini menegaskan kekhawatiran atas independensi lembaga penyelenggara pemilu di Amerika Serikat.

Trump memberhentikan dua orang perwakilan Demokrat, Benjamin Hovland dan Thomas Hicks, dari komisi tersebut pada hari Kamis. Pihak Gedung Putih menyatakan bahwa presiden memiliki wewenang penuh untuk melakukan pemecatan tersebut. Kebijakan ini diambil dengan mengacu pada keputusan Mahkamah Agung baru-baru ini dalam kasus Slaughter.

Melalui keputusan mayoritas 6-3, para hakim agung memutuskan bahwa presiden dapat memecat kepala sebagian besar lembaga independen kapan saja. Keputusan tersebut membatalkan preseden hukum yang telah berusia hampir satu abad. Sebelumnya, Kongres memiliki wewenang untuk melindungi lembaga-lembaga independen tersebut dari intervensi politik.

Pihak Gedung Putih memberikan pembelaan resmi atas keputusan kontroversial ini. "Presiden, selaku kepala Cabang Eksekutif, memiliki hak untuk memberhentikan individu yang mungkin tidak sepenuhnya selaras dengan tugas penting dalam mengamankan pemilu Amerika dan memastikan setiap suara sah dihitung," kata seorang pejabat Gedung Putih dalam sebuah pernyataan resmi. Pejabat tersebut menambahkan bahwa keputusan kasus Slaughter memberikan preseden hukum yang kuat bagi presiden.

Krisis di dalam tubuh lembaga pemilu ini semakin diperparah dengan mundurnya anggota lain. Anggota komisi ketiga, Christy McCormick yang merupakan perwakilan dari Partai Republik, juga menyatakan mengundurkan diri pada pekan ini. Situasi ini membuat posisi komisi independen tersebut menjadi kosong.

Berdasarkan catatan sejarah, EAC didirikan pada tahun 2002 sebagai lembaga independen yang bertugas menyediakan dana, pelatihan, dan bantuan bagi pejabat pemilu di tingkat negara bagian. Lembaga ini membantu persiapan pemilu federal dan memfasilitasi partisipasi pemilih. Selain itu, EAC juga bertanggung jawab menyertifikasi teknologi pemungutan suara dan mengelola formulir pendaftaran pemilih nasional.

Langkah agresif presiden langsung memicu kecaman keras dari Partai Demokrat dan kelompok hak pilih. Mereka memandang pemecatan ini sebagai upaya terselubung untuk mencampuri pemilu di masa depan. Meskipun demikian, sejumlah pakar menilai tindakan tersebut kemungkinan hanya akan memberikan dampak yang terbatas pada siklus pemilu kali ini.

Gelombang protes juga datang dari para pemikir politik di Amerika Serikat. "Semua sinyal bahaya telah menyala merah, yang terbaru adalah pemecatan sepihak oleh Presiden terhadap anggota Komisi Bantuan Pemilu Federal yang tersisa," tulis ahli strategi Demokrat David Axelrod dalam unggahan di media sosial pada hari Jumat.

Dalam beberapa bulan terakhir, Trump secara terbuka menyerukan untuk "menasionalisasi" pemilu. Ia menggunakan klaim tanpa bukti tentang kecurangan pemilu yang meluas pada pemilu presiden tahun 2020. Klaim tersebut dipakai untuk membenarkan upaya pemerintahannya dalam membatasi pemungutan suara melalui surat, mengambil alih daftar pemilih negara bagian, dan mewajibkan bukti kewarganegaraan Amerika Serikat untuk memilih.

Menurut laporan hukum, upaya-upaya intervensi tersebut menghadapi perlawanan sengit di pengadilan. Hakim pengadilan distrik telah menolak hampir selusin gugatan hukum terhadap negara-negara bagian yang sebagian besar dipimpin oleh Partai Demokrat. Gugatan tersebut sebelumnya diajukan untuk memaksa kepatuhan terhadap tuntutan data pemilih yang diminta pemerintah.

Cobb kini menjadi kritikus Trump yang sangat vokal sejak meninggalkan Gedung Putih pada tahun 2018. Ia mencatat bahwa pengadilan federal sejauh ini telah bertindak "tangguh dalam menahan serangan terhadap supremasi hukum". Namun, ia menegaskan bahwa upaya Trump untuk menempatkan orang-orang setianya di seluruh bagian pemerintah federal tidak boleh diabaikan begitu saja.

"Kekuatan-kekuatan itu sudah berada di lapangan," tutur Cobb memperingatkan. Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh terlalu tenang menghadapi pemilu karena Trump sedang mengatur setiap kartu di dalam dek yang bisa ia jangkau untuk memenangkan kepentingannya.

Topics
#donald_trump #ty_cobb #gedung_putih #pemilu_paruh_waktu #komisi_bantuan_pemilu #politik_amerika_serikat #partai_demokrat #mahkamah_agung_as
Jurnalis Spesialis Teknologi & Inovasi Digital

Jasmin Nurdiyanta Rahayu adalah jurnalis yang mendalami perkembangan teknologi, inovasi digital, dan startup Indonesia. Dengan latar belakang di bidang teknologi informasi, ia memiliki pemahaman mendalam tentang tren digital, kecerdasan buatan, dan transformasi industri. Liputannya tentang ekosistem startup, inovasi fintech, dan perkembangan teknologi di Indonesia menjadikannya sumber terpercaya bagi pembaca yang ingin mengikuti perkembangan dunia digital.